Olveh Leaders Forum – Post Election Economic Update

Pada tanggal 27 Mei, Independent Research and Advisory Indonesia (IRAI) telah menyelenggarakan kegiatan diskusi yang berupa forum, yang berjudul “Olveh Leaders Forum – Post Election Economic Update”, membahas gambaran perekonomian Indonesia setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) mengumumkan pemenang calon Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2019-2014.

Acara yang diselenggarakan di Lantai 1 kantor IRAI tersebut dibuka oleh presentasi dari Senior Economist IRAI yang memberikan update perekonomian Indonesia dari sisi trade balance, government spending, dan tax income. Selain itu, IRAI juga memberikan pembukaan dengan gambaran hasil pemilu dari tahun 2004 hingga tahun 2019.

Kemudian dilanjutkan oleh materi yang di sampaikan para pakar dengan latar belakang yang beragam. Pembicara pertama merupakan Rizal Malarangeng, yang merupakan founder dari Freedom Institute dan ahli di bidang politik. Dilanjutkan oleh presentasi dari Manu Bhasakran yang merupakan Ekonom Regional sekaligus CEO dari Centennial Asia Advisors tentang “Global Outlook & Implications for Indonesia”. Terakhir dari Heriyanto Irawan, Partner dari Deutsche Verdana Securities tentang “Investment Outlook Sector Selection”.

Key Lessons dan Takeaways

Di India, Narendra Modi yang merupakan calon petahana dan didukung oleh partai yang dekat dengan kelompok agama mayoritas, berhasil memenangkan pemilu tahun 2019. Sebaliknya, di Indonesia, Jokowi yang juga calon presiden petahana, dapat menjadi pemenang pemilu tahun 2019 walaupun partai pendukungnya tidak kental dengan kelompok agama mayoritas. Bahkan Jokowi sering diserang dengan isu-isu yang dapat menyulut kemarahan dari kelompol agama mayoritas.

Al Gore dan Hillary Clinton merupakan calon presiden Amerika Serikat yang mengalami kekalahan, masing-masing di tahun 2000 dan 2016. Setelah hasil pemilihan presiden diumumkan, mereka dapat berbesar hati menunjukkan sikap kesatria dengan mengakui kekalahan dan memberi ucapan selamat kepada pemenang pemilu di tahun tersebut. Sementara itu, Prabowo-Sandi sebagai pihak yang kalah dalam pemilu 2019, masih belum mau menerima hasil perhitungan suara yang telah dirilis secara resmi.

Perang dagang antara AS-Tiongkok meningkatkan risiko adanya penambahan tarif bagi pabrik yang berada di Tiongkok. Sehingga memerlukan relokasi pabrik agar harga barang tetap kompetitif di pasar. Banyak perusahaan yang telah merencanakan relokasi pabriknya ke wilayah Asia Tenggara. Namun, Indonesia bukan menjadi tujuan utama, walaupun Pegatron, perusahaan perakit produk Apple, telah menginvestaikan pembangunan pabrik di Batam. Isu-isu seperti defisit neraca transaksi berjalan, dominasi aliran dana asing yang berjangka pendek, dan regulasi ketenagakerjaan yang masih belum terselesaikan menjadi pertimbangan perusahaan untuk membangun pabrik di Indonesia. 

Rasio tabungan valuta asing dan PDB semakin tergerus. Sebagai negara net importir, kebutuhan Dollar di Indonesia semakin meningkat walaupun diiringi dengan pertumbuhan ekonomi. Sehingga Indonesia perlu berhati-hati agar terhindar dari growth trap, dengan menemukan sumber devisa yang potensial, yaitu pemanfaatan Tourism dan Commodity Downstream.

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top