Percepatan Hilirisasi Nikel Dan Potensi Ekonomi Yang Menjanjikan

Olveh Forum kembali mengadakan Diskusi Grup Terarah (Focus Group Discussion) di Gedung Olveh pada 30 September 2019. Tajuk FGD kali ini adalah “Hilirisasi Industri Nikel Indonesia Untuk Meningkatkan Nilai Tambah Bagi Perekonomian Indonesia”.  Diskusi yang dihadiri para instansi terkait ini terfokus pada sejumlah strategi yang perlu disiapkan agar kebijakan percepatan larangan ekspor nikel berhasil demi mendorong hilirisasi di Indonesia. Larangan ekspor bijih nikel yang semestinya berlaku di tahun 2022 akan dipercepat dan berlaku di tahun ini demi menggenjot hilirisasi nikel.

Berdasarkan data, nikel digolongkan sebagai komoditas logam strategis. Indonesia sendiri merupakan eksportir nikel nomor 6 dari 10 negara produsen nikel terbesar di dunia pada 2016. Potensi cadangan nikel paling banyak ditemukan di Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, dan Maluku Utara. Potensi cadangan nikel Indonesia sebesar 23,7% cadangan dunia, dengan total cadangan sebanyak 9 miliar metrik ton. Saat ini 98 persen total produksi nikel Indonesia langsung dieksplor ke luar negeri tanpa diolah terlebih dahulu.

Lin Che Wei (Policy Adivisor Kemenko Perekonomian)

Diskusi ini dihadiri oleh Lin Che Wei (Policy Advisor Kemenko Perekonomian) sebagai moderator forum. Disamping itu hadir pula Montty Giriana (Deputi III Kemenko Perekonomian), Irwandy Arif (Ketua Indonesia Mining Institute), Meidy Katrin Lengkey (Sekjen Asosiasi Penambang Nikel Indonesia), Yuli Bintoro (Kepala Subdirektorat PUM Ditjen Mineral dan Batu Bara Kementerian ESDM) dan Bambang Harymurti (Senior Advisor IRAI).

Meidy Katrin Lengkey (Sekjen Asosiasi Penambang Nikel Indonesia)
Irwandy Arif (Ketua Indonesia Mining Institute)
Montty Giriana (Deputi III Kemenko Perekonomian)
Bambang Harymurti (Senior Advisor IRAI)

Ada beberapa isu yang teridentifikasi dari terselenggaranya forum ini demi berhasilnya kebijakan hilirisasi nikel Indonesia, beberapa diantaranya adalah peningkatan peran pemerintah melalui kementrian perindustrian, studi kasus negara maju yang gagal melakukan kebijakan hilirisasi, perlunya roadmap jangka panjang untuk mengakomodir hal-hal yang diperlukan, pembentukan lembaga riset, kebijakan mendetail terkait smelter dan tantangan teknologi dimana Indonesia masih bergantung pada negara lain.

Suasana FGD

Langkah hilirisasi dinilai bisa mendorong minat investor terhadap investasi langsung atau (foreign direct investment) di Indonesia, sehingga defisit neraca dagang Indonesia bisa membaik. Tidak hanya nikel, pemerintah juga akan melakukan hilirisasi timah dan bauksit setelah 2024, sehingga kerangka mobil listrik, nantinya bisa memakai semua komponen dalam negeri. Misalnya, ban untuk mobil listrik bisa mengandalkan produksi karet dalam negeri ataupun produksi plat dan baterai mobil listrik yang bisa menggunakan produk domestik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Begin typing your search term above and press enter to search. Press ESC to cancel.

Back To Top